Rabu, 10 April 2019

Early Edition

Dear deary, 
Aku rajin menonton serial tivi jadul "Early Edition" di internet.  Terimakasih Allah,  rasanya Allah mengajariku banyak hal lewat tontonan itu, sekaligus Allah menyemangatiku, menghiburku lewat kisah yang mirip-mirip aku alami.  Terimakasih juga buat Fordy , sahabat yang sudah memberiku link serial itu.

Di awal-awal si Garry Hobson menjalankan misi jiwanya.  Dia diguncangkan dengan peristiwa perpisahan dengan istrinya , juga keluar dari pekerjaannya.  Serupa tapi tak sama dengan yang aku alami, tapi lebih drastis di aku.  Ya ketika orang-orang di sekelilingku "direduksi" satu per satu , hingga yang tertinggal hanyalah orang-orang yang secara frekwensi mendukungku dalam melaksanakan misi jiwa . Sampai karyawan di rumah yang dulu puluhan , tinggal 4 biji.  Belum lagi keluarga ... 

Aku dilatih menerima reaksi keluarga yang memandang aneh dan kata-kata menyakitkan (aku gak tega menulis kata kata itu) . Aku dilatih selalu memaafkan , bahkan bukan hanya memaafkan , tapi selalu menyayangi di bawah penghinaan  dan kata-kata yang merendahkan.  Aku digembleng sedemikian rupa fisik dan mentalku sehingga hati selalu ringan dan selalu dalam "unconditional love". 

Ehm ... sebagian ceritaku aku temukan di Early Edition , sampai menyadari bahwa begitulah menjadi alat Tuhan.

Itu baru di wilayah manusia sekelilingku.  Tapi kalau ditimbang dengan "imbalan"nya yang berupa karunia Allah yang amat besar , ya memang begitulah adanya ... masih besaran karunia Allah,  jauh sekali timbanganya.  Ibarat satu atom dibandingkan dengan alam semesta. 

Saat yang tak kalah beratnya adalah saat egoku dibersihkan Allah.  Ini melalui beberapa peristiwa yang sampai membuatku hampir gila!  Sampai aku minta didoakan anak-anakku agar ibuk tidak gila.  Ehm ...

Enakkah menjadi alat Tuhan?  Seperti menjadi pemeran utama dalam sebuah pertunjukan , pasti yang paling capek,  yang paling dituntut  bekerja keras , yang paling babak belur,   tapi yang menerima bayaran paling gede ... Haha . Walau di dunia nyata,  bukan bayarannya yang menarik , karena Allah lebih segala galanya sebagai tujuan. 

Ternyata banyak judul di Early Edition , puluhan mungkin ratusan . Dan setiap judulnya menyimpan pelajaran buatku. Nanti aja lagi ceritanya , ngantuk.  

Senin, 12 Februari 2018

Cara Mati Pilihan Allah

Entah kapan dan mulainya dari mana, ketika tiba-tiba aku merasa sebuah pertanyaan ditujukan padaku.

"Bagaimana seandainya cara mati kamu adalah dengan dibunuh? Apakah dibunuh secara fisik atau melalui serangan ghaib?'

Semula aku menolak cara mati seperti itu, aku pikir bukankah aku bisa minta cara mati terbaik kepada Allah?  Tapi aku pikir lagi, apakah mati dengan cara dibunuh bukan cara mati yang baik?  Seandainya disitu ada kehendak Allah bagaimana? Bukankah cucu dan sahabat Nabi juga mati dengan cara dibunuh? dan mungkin ada Nabi yang tidak tertulis di al quran yang juga mati dengan cara dibunuh.

Akhirnya aku ikhlas saja, seandainya cara matiku adalah dibunuh.  Dan aku yakin, bagi orang-orang pilihan Allah, apapun cara matinya pasti memberi kebaikan pada semesta.  Dan perasaanku tertuntun, "Baiklah ya Allah, semoga cara matiku akan membuat semua yang terlibat dalam kematianku akan bertobat untuk kembali seutuhnya kepadaMu".

Ya, bila cara matiku akan membuat semakin banyak jiwa kembali kepada Allah dan dalam kasih sayangNya saja, mengapa tidak?

Apakah kematian terlalu menyakitkan? Tidak juga, bagaimanapun sebuah perjalanan menujuNya adalah perjalanan indah dan menyenangkan.

Sungguh aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari, setelah firasat bahwa usiaku tak akan mencapai 60 tahun beberapa waktu yang lalu.

Biarlah Allah yang memilih cara matiku dan kapan itu terjadi, aku yakin Allah sudah menyiapkannya dengan sangat indah untukku.  Dan bagaimanapun cara matiku, aku akan sangat tenang dan bahagia apabila anak-anakku bisa memaafkan siapapun yang telah berbuat kejahatan padaku, tidak menuntut, dan malah mendoakan dengan kasih sayang agar semuanya kembali kepadaNya dengan selamat.